| Perdagangan Chip Kayu |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Monday, 22 September 2008 | |
|
Umat manusia telah mengenal kertas selama ratusan bahkan ribuan tahun dan menggunakannya untuk berbagai keperluan. Kertas diproduksi dari bahan baku yang dinamakan pulp. Pulp merupakan bahan yang terdiri dari serat (selulosa) yang dihasilkan melalui proses pemasakan (pulping) dan pemutihan (bleaching). Proses pembuatan pulp secara modern dilakukan di dalam alat yang dinamakan digester menggunakan bahan baku berupa serpihan kayu atau chip. Produksi pulp membutuhkan chip dalam jumlah yang besar. Bagi negara-negara yang mempunyai areal hutan yang cukup luas penyediaan chip bukanlah masalah besar tetapi lain halnya dengan negara-negara pasifik seperti Jepang, China, Korea atau Taiwan yang mempunyai luas area hutan yang sempit. Industri pulp di negara-negara pasifik membutuhkan chip yang tidak bisa disuplai dari hutan yang tersedia. Impor chip kayu oleh negara-negara tersebut pada tahun 2007 meningkat 5,6 % terhadap 2006, mencapai angka tertinggi 16,8 juta ton. Indonesia yang memiliki kapasitas pulp kayu 6 juta ton pada 2007 dan menjadi 7,4 juta ton pada 2008, memerlukan chip kayu sekitar 15 juta ton/tahun. Semua pabrik pulp mempunyai unit chipper dan melakukan chipping di pabriknya masing-masing. Bisnis chip kayu sangat prospektif, baik secara global maupun di Asia (Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan, India, Thailand). Pemasok terbesar untuk Asia ialah Australia, yang mengekspor 5 juta ton chip setiap tahunnya. Saat ini Australia sedang membangun 4 proyek pabrik pulp yang direncanakan mulai operasi 2010 dengan total kapasitas 2,5 juta ton per tahun pulp BEKP dan CTMP. Bilamana Australia tidak dapat mengekspor chip, maka hal ini merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengembangkan industry chipnya dan mengekspornya ke Negara-negara yang selama ini mengimpor dari Australia. Apalagi investasi untuk membangun HTI plus pabrik chip jauh lebih rendah dibandingkan dengan investasi membangun HTI plus pabrik pulp. Di Asia praktis tidak ada lagi negara yang berpotensi mengembangkan industri chip karena tidak adanya potensi areal hutan yang dapat dikembangkan menjadi HTI, kecuali Indonesia. Memang diakui ada potensi kecil areal hutan di Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja tetapi kecil dibandingkan dengan areal hutan Indinesia. Sumber: Bulletin Berita Industri Pulp & Kertas Indonesia, edisi Juli 2008 |
|
| Last Updated ( Monday, 22 September 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|

