KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbaikan Rencana Kerja Usaha Hutan Tanaman Industri (RKU-HTI) lebih banyak berpengaruh bagi industri pulp dan kertas.

"RKU lebih banyak menyangkut industri hutan yang menghasilkan kayu untuk industri pulp and paper," ujar Wakil Ketua Umum Bidang Bahan Baku, Himpinan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Andang Wahyu Triyanto, Jumat (10/11).

Andang bilang, hal tersebut tidak mempengaruhi secara signifikan kepada bahan baku industri mebel. Hal itu dikarenakan material yang digunakan industri mebel merupakan jenis bahan baku kayu solid.

Pelibatan industri dianggap diperlukan guna merancang sebuah regulasi. Selain itu pembuatan regulasi dinilai jangan membuat industri harus menambahkan modal lebih. Andang juga bilang bimbingan secara teknis dan non-teknis diperlukan dalam perkembangan industri.

Perbaikan RKU-HTI secara jangka pendek dianggap dapat mengganggu pasokan bahan baku industri pengolahan kayu. "Dalam jangka pendek pasti akan mempengaruhi pasokan bahan baku," terang Dodik Ridho Nurrochmat, Dosen Institut Pertanian Bogor.

Dodik bilang hal itu dikarenakan perlu waktu untuk mencari lahan pengganti, penyiapan lahan, dan pembangunan infrastruktur serta mobilisasi alat berat. Namun dalam jangka panjang Dodik menilai bisa saja pasokan kembali normal.

Meski begitu industri akan terganggu apabila sudah terjadi kesepakatan ekspor. Pada kesepakatan tersebut Dodik bilang biasanya sudah dihitung kecukupan bahan baku, yang berkaitan dengan pengaturan beban mesin, beban tenaga kerja, dan jadwal ekspor. Supply bahan baku diskontinu persoalannya akan merembet ke teknis produksi, produk, pasar dan karyawan.

Dampak dari hal tersebut tergantung pada berbagai hal. Kecepatan dan kesesuaian penyediaan lahan pengganti serta kepiawaian perusahaan dalam merespon perubahan menjadi kunci mengatasi masalah bahan