TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PLN Regional Kalimantan melakukan tiga kerjasama sekaligus dengan pengembang yang bergerak di bidang penyediaan tenaga listrik dari EBT.

Hal ini juga sesuai dengan Program 35.000 MW yang juga tidak terlepas dari pembangunan pembangkit berbasis EBT yang sejatinya akan berkontribusi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi Indonesia.

"Adanya penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding/Nota Kesepahaman) ini dalam rangka pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik yang berkelanjutan," ujar Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN Djoko R. Abumanan, Rabu (21/12/2016).

Kerjasama pertama PLN dengan PT Kertas Nusantara (PTKN) yang akan menyediakan energi listrik dari bahan bakar biomassa yang berasal dari Bark (kulit kayu) dan Black Liquor (buangan dari proses pembuatan pulp/kertas).

Listrik yang dihasilkan tersebut berupa excess power dimana sebagian atau kelebihan tenaga listrik akan disalurkan dan dijual kepada PLN.

"PTKN yang bertindak sebagai power producer siap menyediakan listrik untuk masyarakat di Kalimantan," kata Djoko.

Kapasitas terpasang PTKN adalah 2x65 MW dan yang akan dijual ke PLN sebesar 25 MW dan dapat ditingkatkan menjadi 50 MW.

Adanya penggunaan pembangkit listrik dengan energi primer biomassa dapat memberdayakan ekonomi lokal.

Sedangkan, kerjasama yang dibina oleh PLN dan PT INTI (PT Industri Telekomunikasi Indonesia) adalah pengembangan potensi EBT untuk kepentingan ketenagalistrikan.

Hal ini dilakukan melalui studi kelayakan (feasibility study) dan analisa pembangkit hybrid antara PLTS dengan PLTD di regional Kalimantan.

Kerjasama studi kelayakan dan analisa pembangkit EBT juga diimplementasikan PLN dan PT Energi Baru yang berupaya untuk menemukan potensi energi biomassa agar dapat masuk sistem kelistrikan Kalimantan.

"Dengan adanya tiga kerjasama ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan pasokan energi listrik yang sustainable serta menciptakan efisiensi dan efektivitas dalam menyediakan listrik kepada masyarakat Indonesia, terutama di Kalimantan," ungkap