SUKOHARJO, KOMPAS -- Ratusan warga desa Gupit, Plesan, dan Celep, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (26/10), berunjuk rasa di pabrik serat rayon PT Rayon Utama Makmur. Mereka memprotes bau menyengat limbah cair pabrik itu. Presiden Direktur PT Rayon Utama Makmur Pramono menyatakan bertanggung jawab terhadap dampak polusi.

Penanggung jawab unjuk rasa, Antoni Rangga, mengatakan, bau menyengat muncul sepekan terakhir. Akibatnya, warga di sekitar pabrik merasa pusing dan mual. "Di Dukuh Tawang Krajan, Desa Gupit, ada 50-an warga pusing, mual, bahkan ada yang pingsan," katanya.

Kasiman (60), warga Desa Gupit, mengatakan, bau menyengat tercium pada malam dan pagi hari. Belasan warga sempat mengungsi ke dusun lain.

Menurut Rangga, warga menuntut PT Rayon Utama Makmur (PT RUM) segera menghilangkan bau limbah cair pabrik. Warga mengkhawatirkan dampak buruk terhadap kesehatan. Menurut Rangga, PT RUM dan warga sudah membuat kesepakatan bersama.

PT RUM adalah pabrik serat rayon di bawah PT Sritex Tbk. Pabrik direncanakan memiliki kapasitas produksi 80.000-90.000 ton serat rayon per tahun. Dalam pertemuan dengan perwakilan warga di pabrik, Pramono mengakui ada kesalahan. "Kalau ada warga yang harus dibawa ke dokter, ke puskesmas, sebagai dampak bau, saya bertanggung jawab," katanya.

Kegagalan proses
Pramono mengatakan, bau menyengat muncul akibat kegagalan proses awal produksi serat rayon. PT RUM adalah pabrik baru. Menurut dia, untuk memproduksi serat rayon harus mencairkan bahan baku berupa bubur kertas berbentuk lembaran menggunakan cairan kimia jadi larutan yang disebut viscose. Larutan itu diproses dengan mesin yang punya banyak lubang kecil hingga membentuk serat rayon.

Masalahnya, lubang-lubang mesin banyak tersumbat sisa pengelasan. Akibatnya, proses produksi terganggu. Cairan viscose mengental sehingga tidak bisa diproses menjadi serat. Larutan pun dibuang ke instalasi pengolahan air limbah. Untuk mencairkan larutan itu, pihaknya menambahkan asam sulfat. Hal ini menimbulkan bau menyengat. Saat ini, kata Pramono, mesin yang tersumbat telah dibersihkan dan produksi normal lagi.

Menurut Kepala Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Sukoharjo, Harjanti, pihaknya telah mengambil sampel cairan limbah PT RUM untuk diuji di