PELALAWAN, KOMPAS.com - Selama beroperasi sejak 1999, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) telah berkontribusi terhadap negara sebesar Rp 2,45 triliun.

Jumlah itu meliputi dengan komposisi penerimaan pajak Rp 1,92 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 530 miliar.

Selain memberikan kontribusi pendapatan ke pusat, Pemerintah Daerah (Pemda) pun turut merasakan adanya penerimaan tambahan hingga Rp 758,59 miliar sepanjang 1999 hingga 2014.

Selama 15 tahun beroperasi, salah satu unit usaha Royal Golden Eagle (RGE) atau Raja Garuda Emas milik konglomerat Sukanto Tanoto ini berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja secara nasional sebanyak kurang lebih 85.000 orang per tahun.

Dari jumlah itu, 65.000 atau 81 persennya berada di Riau. Pada 2000 lalu, RAPP membuka 42.000 kesempatan kerja di Riau dan meningkat menjadi 59.000 orang pada 2010, lalu naik lagi menjadi 58.000 kesempatan kerja pada 2014.

"Sebanyak 60 persen kesempatan kerja muncul di Pelalawan dimana kami beroperasi," ujar Direktur RAPP, Rudy Fajar di Pelalawan, Riau, Selasa (6/3/2017).

Rudy mengatakan, hingga saat ini, RAPP telah memproduksi 2,8 juta ton pulp dan 1,2 juta ton kertas serta mempekerjakan 5.500 tenaga kerja langsung. Adapun produk yang dihasilkan dengan merek PaperOne yang dipasarkan ke lebih dari 75 negara.

"Produk tersebut 100 persen dibuat dari kayu dari Hutan Tanaman Industri (HTI)," kata Rudy.

Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM), keberadaan RAPP di Riau mampu berkontribusi signifikan terhadap perekonomian masyarakat wilayah tersebut.

Tercatat sejak 1999 hingga 2014 beroperasi di Bumi Lancang Kuning, RAPP telah berkontribusi dalam pembentukan output terhadap perekononomian nasional Rp 557 triliun, yang mana Rp 498 triliun atau 89,5 persennya berada di Riau.

Dampak output tersebut setara dengan 7,4 persen dari total output Riau termasuk migas atau 9 persen dari output Riau tanpa Migas.

Namun, kontribusi relatif output RAPP terhadap perekonomian Riau menunjukkan pola penurunan sejak 2009 sebagai dampak pertumbuhan output Provinsi Riau yang lebih tinggi.

Namun, penurunan tersebut bukanlah suatu hal yang negatif. Justru dengan penurunan tersebut menunjukan bahwa kemandirian masyarakat semakin meningkat dan tidak bergantung lagi pada RAPP.

"Ini positif karena ketergantungan secara ekonomi masyarakat di Riau terhadap perusahaan semakin turun, karena tingkat kemandirian mereka meningkat," pungkas