Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan kertas milik Grup Sinarmas, Asia Pulp and Paper Co Ltd (APP) mulai memberanikan diri mengekspor berbagai jenis kertas fotokopi ke Jepang setelah menjadi pemimpin pangsa pasar kertas fotokopi 64 gram di Negeri Sakura itu.

Chairman Asia Pulp and Paper Japan, Tan Ui Sian mengatakan perusahaan sudah mulai berani mengekspor kertas fotokopi berwarna putih terang (high bright) dan kertas fotokopi berwarna-warni yang diharapkan bisa diterima baik oleh konsumen di Jepang.

Sebelumnya, perusahaan hanya memasarkan kertas fotokopi dengan berat 64 gram berwarna putih pucat, yang merupakan kertas fotokopi lazim digunakan di Jepang.

"Karena proses impor kertas di Jepang itu sangat strict dan punya spesifikasi sendiri, harus kertas dengan berat 64 gram yang boleh masuk. Bagusnya, kami telah memenuhi standar itu dan sudah banyak konsumen yang loyal, sehingga kenapa tidak kami coba ekspor kertas dengan jenis lain," jelas Tan di Jakarta, Selasa (3/5).

Ia mengatakan, saat ini pangsa pasar kertas fotokopi APP di Jepang mencapai 25 persen dari total kebutuhan mencapai 1,2 juta ton per tahunnya. Angka itu disebabkan karena harga kertas perusahaan dianggap lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri.

Namun gara-gara itu, penetrasi pasar tersebut sempat tak berjalan mulus karena perusahaan diganjar tuduhan dumping selama bertahun-tahun. Oleh karenanya, tak heran perusahaan memerlukan waktu sampai 25 tahun untuk mencapai angka pangsa pasar yang diinginkan.

"Awalnya memang kami mengikuti dulu apa kemauan pasar di Jepang. Selagi kami sudah kuasai market share-nya, makanya kami menantang pasar di Jepang untuk mencoba kebiasaan penggunaan kertas baru," jelasnya.

Saat ini, kertas jenis high bright sudah mengambil porsi 50 persen dari total seluruh penjualan kertas fotokopi APP di Jepang. Apalagi menurutnya, ada peluang negara matahari terbit itu akan memperbesar impor kertas mengingat sudah banyak produsen kertas domestik gulung tikar karena dianggap tak ekonomis.

Menurut data yang dimilikinya, produksi kertas Jepang pada tahun lalu tercatat 27 juta ton per tahun. Angka ini terbilang menurun dari puncak produksi di dekade 2000-an yang bisa mencapai 32 juta ton per tahun.

"Memang di Jepang saat ini produksinya turun karena masalah bahan baku yang tidak efisien. Jadi ada peluang kertas impor akan banyak masuk ke sana dan market share kami bisa lebiu besar," terangnya.

Kendati peluang terbuka lebar, ia mengaku terdapat masalah permintaan kertas Jepang yang kian melemah. Hal itu dianggap menjadi rintangan dalam menyuplai kertas fotokopi ke Jepang.

Menurut data yang dimilikinya, konsumsi kertas Jepang secara keseluruhan turun 30 persen sepanjang tahun 2000 hingga 2015. Sementara itu, konsumsi kertas cetak menurun 24 persen di dalam periode yang sama.

"Namun kami berharap itu tidak berpengaruh banyak ke bisnis kami karena konsumsi kertas per kapita Jepang masih tinggi yaitu sekitar 230 kilogram (kg) per tahun. Indonesia saja masih 32 kg per tahun," ujar Tan.

Dengan berbagai target yang terkesan optimistis, sayangnya ia tak mau menyebut target pangsa pasar yang ingin diraih perusahaan dalam jangka panjang.

"Angka 25 persen itu sudah sangat bagus, untuk ke depannya tentu kami akan terus bertumbuh,"