REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong agar penurunan harga gas bisa segera terealisasi. Sebab banyak investor telah menunjukkan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia jika harga gas untuk industri turun.

"Sudah ada beberapa proyek yang dirincikan salah satunya industri methanol yang bisa dibangun di Papua," kata Airlangga usai pembukaan Indonesia Motorcycle Show 2016, Rabu (2/11).

Dia menjelaskan, harga gas di Indonesia dengan rata-rata 9,5 dolar AS per mmbtu masih terlampau mahal untuk industri. Banyak negara yang mampu memberikan harga gas industri di bawah tujuh dolar AS per mmbtu.

Menurut Airlangga, dari sejumlah kajian yang dilakukan, salah satunya Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), penurunan harga gas bumi dari 9,5 dolar AS menjadi empat dolar AS per memang akan menurunkan potensi penerimaan negara sebesar Rp 53,86 triliun. Namun, kehilangan ini bisa digantikan dengan potensi yang lebih besar sekitar Rp 85,84 triliun dari penerimaan pajak serta industri turunannya.

Artinya akan ada manfaat lebih dari penurunan harga gas ini sekitar Rp 31,97 triliun dengan kemungkinan lapangan pekerjaan baru sebanyak 240 ribu tenaga kerja. Contoh industri yang akan mendapatkan manfaat ketika penurunan harga gas diberlakukan adalah industri pupuk urea dan pembangkit lisrik, dalam hal ini PLN.

Harga gas untuk industri pupuk urea saat ini 6,3 dolar AS per mmbtu, dengan nilai subsidi pemerintah mencapai Rp 28 triliun. Jika harga has menjadi empat dolar AS per maka akan ada potensi pengurangan subsidi Rp 4,5 triliun. Maka pemerintah hanya akan memberikan subsidi sebanyak Rp 23,5 triliun.

Serupa, harga gas untuk PLN saat ini mencapai tujuh dolar AS dengan nilai subsidi mencapai Rp 65 triliun. Ketika harga gas berada di angka empat dolar AS maka diperkirakan akan ada potensi pengurangan subsidi sebesar Rp 7,3 trilun, sehingga negara hanya harus mensubsidi PLN Rp 57,7 triliun.

Dengan penurunan gas untuk dua industri ini saja, pemerintah bisa mendapatkan tambahan penerimaan negara mencapai Rp 11,8 triliun. "Sekarang pemerintah ini ngeluarin untuk nombokin, karena subsidi pupuk," ujarnya

Airlangga menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki 72 proyek yang terbagi menjadi tiga sektor utama yakni industri kimia teksil dan aneka; industri agro; dan industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronik yang tersebar mulai dari Sumatra hingga Papua . Masing-masing industri memiliki turunan industri yang banyak menggunakan gas dalam proses produksinya seperti industri petromikia, kaca, keramik, tekstil dan alas kaki, Pulp dan kertas, hingga industri makanan dan minuman.

Dengan banyaknya industri yang menggunakan gas, Airlangga menilai telah banyak industri yang akan dibangun mampu memperluas yang telah ada. Total investasi sekitar Rp 448,2 triliun akan masuk ketika pemerintah mampu menurunkan harga gas mencapai empat dolar AS per mmbtu. Investasi ini juga diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja 183.837 orang.

Potensi pertumbuhan investasi semakin meningkat jika investor tahu bahwa harga gas di Indonesia bisa lebih murah ketimbang negara-negara lain yang selama ini menjadi incaran perusahaan asing berinvetasi. Apalagi Indonesia juga telah ikut serta dalam sejumlah perdagangan bebas yang membuat produk Indonesia bisa masuk ke banyak negara. "Tapi sekarang kita kalah karena biaya kita lebih tinggi," kata