Liputan6.com, Jakarta - Suara bising mesin penggilingan kertas terdengar memekakkan telinga. Semua pegawai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang mengoperasikan mesin, menyortir kertas rusak sampai ada yang mondar mandir mengontrol kerja anak buah. Begitulah aktivitas di sebuah unit yang khusus memproduksi kertas ukuran untuk kebutuhan fotokopi, print, dan lainnya.

Unit ini berada di kawasan pabrik bubur kertas (pulp) dan kertas milik PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk di bawah nama dagang Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas. Lokasinya berada di Perawang, Kabupaten Siak, Riau. Luas tempat bekerja unit kertas ukuran atau cut size sekitar 3 hektare (ha), belum ada apa-apanya jika dibanding total luas pabrik keseluruhan yang mencapai 1.500 dengan total karyawan 9.800 orang.

Bagaimana tidak besar, pabrik ini terintegrasi dari hulu sampai hilir. Dari pintu gerbang utama sampai ke unit yang memproduksi kertas ukuran memakan waktu sekitar 15 menit menggunakan kendaraan. Menyusuri setiap putaran roda, pengunjung dapat melihat beberapa bangunan pabrik dalam satu kawasan. Mulai dari pengolahan kayu, pemrosesan bubur kertas, hingga produksi kertas jadi yang siap di lempar ke pasaran.

Liputan6.com adalah salah satu dari beberapa awak media yang berkesempatan mengunjungi pabrik itu Kamis (2/6/2016). Para awak media diajak berkeliling di unit produksi kertas. Memasuki ruangan, hawa gerah menyusup sekujur tubuh. Mata menyapu sekeliling sudut yang penuh dengan gulungan kertas besar yang siap untuk digiling dan dipotong sesuai ukuran. Mesin produksi kertas seperti tak mengenal lelah, terus bekerja dengan pendampingan dari si operator mesin.

Gulungan kertas yang sudah dipotong sesuai kebutuhan, seperti ukuran A4, A3, kemudian siap untuk disortir. Penyortiran dilakukan oleh pekerja outsourcing.

“Jangan sampai ada yang terlipat sedikitpun. Harus mulus, rapi karena kalau tidak, pihak pemesan akan komplain. Apalagi kalau untuk pasar ekspor,” ujar Manajer CS3 Indah Kiat Pulp & Paper Product, Sarjono saat berbincang dengan wartawan.

Setelah disortir, barulah kertas sebanyak 500 lembar atau 1 rim ini dikemas dengan menggunakan mesin. Mesin berjalan begitu cepat, sehingga menuntut si operator bekerja mengikuti irama mesin. Menariknya, apabila ada kemasan yang cacat atau sobek, maka mesin secara otomatis akan mengeluarkannya dari jalur. Dengan begitu dipastikan produk kertas yang dihasilkan pabrik ini berkualitas dan tidak cacat.

Sarjono mengungkapkan, total kapasitas produksi kertas ukuran atau cut size mencapai 60 ribu ton per bulan. Sedangkan targetnya ke depan bakal meningkat sebanyak 100 ribu ton setiap bulan. Produk kertas ‘Made in Indonesia’ ini dilempar ke pasar ekspor mencapai 80 persen, sementara 20 persen sisanya di pasar dalam negeri.

“Kan perusahaan kertas bukan kita saja, jadi harus berbagi pasar dengan yang lain. Makanya di pasar domestik cuma 20 persen,” kata dia.

Diakuinya, produksi kertas dari perusahaan telah melanglang buana ke seluruh dunia. Selain melahap pasar di Asia Tenggara, perseroan juga mengekspor kertas-kertas itu ke Jepang, Amerika Serikat (AS), Afrika, Arab Saudi, Kongo, sampai Zimbabwe, dan masih banyak lainnya.

“Permintaan setiap negara pasti beda terhadap kualitas kertasnya. Ada yang minta eksklusif, seperti AS. Sedangkan Jepang order sampai 4 ribu metrik ton kertas per bulan. Tapi itu tadi, tidak boleh ada yang lecek sedikitpun. Kalau sampai begitu, bisa komplain karena kan harga kertas yang diekspor bisa sampai US$ 700-US$ 900 per ton,” terang Sarjono.

Dirinya berharap, perusahaannya mampu menjadi pemain nomor 1 dunia dalam industri pulp dan kertas. “Kita yakin bisa mencapai target nomor 1 di dunia. Kalau sekarang kan peringkat 1 di Asia Tenggara,” kata Sarjono memberi semangat kepada