bisnis.com , JAKARTA - Industri pulp dan kertas meminta pemerintah untuk memasukkan sektornya ke dalam daftar industri yang bakal mendapatkan keringanan harga gas sesuai dengan Perpres No.40/2016.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Liana Brastasida mengatakan pihaknya telah melayangkan surat kepada Kementerian Perindustrian terkait usulannya agar sektor industri pulp dan kertas mendapat keringanan harga gas.

“Harga gas industri pulp dan kertas sangat mahal, di Sumatra bisa sampai US$11 per MMBtu. Jadi kami minta harganya ikut di Perpres yang baru dibuat. Harusnya itu didukung karena pemerintah ingin mengurangi gas rumah kaca yang dihasilkan industri,” katanya pada Bisnis, Kamis (26/5).

Dia mengatakan paling tidak harga gas di sektor indsutri pulp dan kertas dikenai harga sebesar US$6 agar industri tetap bisa bersaing, terutama dengan negara Asean lain yang harga gasnya lebih rendah.

“Kami sudah menyurati ke Kementerian Perindustrian dan terusannya ke Kementerian ESDM sekitar bulan lalu. Namun, kami belum tahu hasilnya,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, industri pulp dan kertas menghabiskan sekitar 15,6 juta million metric british thermal unit (MMBtu), angka tersebut jauh di atas konsumsi industri lahap energi seperti baja dan keramik. Masing-masing menghabiskan sebesar 1,4 juta MMBtu dan 55.594 MMBtu pada 2014.

Bahkan pada 2020 sektor kebutuhan gas alam industri kertas bakal mencapai 307,92 juta million standard cubic feet per day (MMscfd) secara tidak langsung. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding sektor keramik yang mencapai 134,68 MMscfd.

Senada dengan Liana, Direktur PT Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW) Roy Teguh mengatakan industri kertas termasuk menjadi industri yang membutuhkan energi yang besar.

Roy mengatakan industri kertas termasuk menjadi industri yang membutuhkan energi yang besar. Dia berharap sektornya bisa dimasukkan ke dalam daftar industri yang memperoleh fasilitas penurunan harga gas.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden No.40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi pada awal bulan ini.

Dalam peraturan tersebut disebutkan beberapa sektor industri yang bakal merasakan penurunan harga gas a.l. industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan.

“Biaya energi dari industri kertas itu cukup signifikan, kira-kira 15%. Maka kami minta pada Kementerian Perindustrian untuk mengkaji apakah mungkin sektor kertas bisa dimasukkan,” ujarnya.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan pihaknya akan segera mengkalkulasi secara valid konsumsi energi bagi beberapa sektor industri sebagai usulan agar dimasukkan ke dalam perpres tersebut.

“Gas akan menentukan daya saing. Ada sekitar 19 sektor industri yang memanfaatkan gas baik sebagai energi maupun bahan baku. Saya kira masih ada kemungkinan untuk diperluas , seperti kertas, makanan, dan tekstil hulu,” ujarnya.



Pabrik Baru

Pada kesempatan itu, Roy menyampaikan rencana operasional pabrik baru kertas bergelombang milik FASW YANG akan beroperasi pada kuartal I/2017 dengan nilai ekspansi lebih dari US$160 juta, termasuk pembangkit listrik mandiri yang dikembangkannya.

Roy mengatakan pabrik kertas bergelombang atau corrugated medium paper akan segera beroperasi pada kuartal I/2017 yang menelan dana di atas US$160 juta.

“Saat ini ekspansi untuk pabrik sedang dalam konstruksi jadi kami perkirakan kuartal pertama tahun depan bisa beroperasi. Hingga saat ini sebagian mesin sudah masuk,” katanya.

Dia mengatakan rasio ekspor untuk produknya saat ini baru mencapai 15%, sisanya untuk pemenuhan dalam negeri. Dengan adanya pabrik baru tersebut, total kapasitas pabrik menjadi 1,55 juta ton, di mana kapasitas produksi untuk kertas bergelombang mencapai 350.000 ton.

Selain pabrik kertas bergelombang, emiten dengan kode FASW tersebut juga membangun pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan pabrik dengan kapasitas 120 megawatt.

Produknya mencakup dua jenis kertas, yaitu coated duplex board untuk kemasan produk makanan, farmasi, dan sepatu. Produk lainnya container boards cenderung lebih tebal untuk kemasan barang