Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menilai 2017 akan memberi tantangan berat bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang bergelut di bisnis tersebut. Setidaknya ada lima tantangan yang dipercaya bakal membebani perusahaan anggota APKI.

Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida menyebut dua tantangan pertama yang dihadapi anggotanya adalah kondisi pasar dan peraturan di industri tersebut yang semakin ketat.

“Perubahan perilaku konsumen dan perkembangan industri digital, menjadi dua tantangan berikutnya bagi industri pulp dan kertas. Terakhir terkait isu proteksionisme perdagangan,” kata Liana, Jumat (10/2).

Untuk bisa menjawab tantangan tersebut dan mempertahankan daya saing plus laba industri, Liana menilai ada tiga hal yang harus dilakukan oleh industri pulp dan kertas nasional.

“Sustainability, inovasi, serta efisiensi sumber daya harus dijalankan,” tutur Liana.

Ketiga unsur tersebut menurutnya akan mempengaruhi output biaya produksi, environmental footprint, serta menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

Proteksi Dagang

Khusus untuk proteksi dagang, Liana menyebut hambatan ini semakin menyeruak pasca terpilihnya Donald J. Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

“Adanya kecenderungan meningkatnya penerapan instrumen berupa tariff, trade remedies dan non-tariff barriers, regulasi kebijakan, dan sentimen negatif,” kata Liana.

Managing Director Sinar Mas G. Sulistiyanto menambahkan, industri pulp dan kertas membutuhkan dukungan pemerintah untuk mengurangi teknis hambatan perdagangan.

Gandi Menambahkan, Sinar Mas merasakan betul dampak dari kampanye negative khususnya pada kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Serangan itu tidak hanya untuk produk kelapa sawit, tetapi juga pulp dan kertas.

“Perlu bantuan dari berbagai asosiasi untuk para duta besar kita sehingga kesalahpahaman bisa dijelaskan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan, produk industri kehutanan nasional yang bahan bakunya dipasok dari konsesi hutan tanaman industri (HTI) menyumbangkan devisa hingga US$10,7 miliar di tahun 2016.