Bisnis.com JAKARTA – Industri pulp dan kertas diproyeksikan akan tumbuh 3%-4% pada 2017 dengan prediksi ekpsor yang akan meningkat. Dengan begitu Indonesia berpeluang menduduki peringkat ke-5.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam mengatakan peluang tersebut didukung oleh adanya keunggulan kompetitif yaitu letak geografis Indonesia.

Adapun potensi luas izin hutan tanaman industri (HTI) yang tersedia mencapai 10,58 juta hektare dengan kecepatann pertumbuhan pohon hanya 5-6 tahun sebagai sumber bahan baku yang terbarukan.

“Industri pulp dan kertas dalam negeri berkontribusi terhadap devisa negara sekitar US$5,3 miliar pada 2015 dan menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk produksi kertas serta peringkat ke-10 di dunia untuk produksi pulp pada 2015,” katanya dalam acara Pengukuhan anggota APKI 2016-2021, Senin (30/1/2017).

Tak hanya peluang, ada berbagai tantangan yang tahun ini masih dihadapi oleh pelaku usaha. Di antaranya adalah permasalahan harga gas dan ketersediaan garam industri yang digunakan untuk memproduksi pulp.

Kedua permasalahan tersebut dikhawatirkan akan menghambat pemenuhan bahan baku. Selain itu, PP No.57/2016 tentang Perubahan atas PP No.71/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut yang dinilai bakal membatasi luasan untuk pemenuhan bahan baku.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan instansinya saat ini tengah gencar mendorong stake holder terkait untuk bisa memasukkan industri pulp dan kertas untuk bisa mendapatkan penurunan harga gas.

“Kami mendorong harga gas semakin kompetitif karena di luar sudah ada yang bisa sampai US$14 per MMBtu. Harga gas di Indonesia relatif mahal, dan industri pulp dan kertas belum dimasukkan ke dalam kelompok industri yang mendapatkan harga khusus sebagaimana diatur pada Perpres No. 40 Tahun 2016,” ujarnya.

Ketersediaan energi yang ramah lingkungan dengan harga yang kompetitif juga merupakan hal yang sangat menentukan daya saing.

Namun, dia tetap optimistis bahwa Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang masih dimungkinkan untuk mengembangkan industri pulp dan kertasnya, disamping beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Timur.

Selain karena masih luasnya potensi HTI, potensi bahan baku non kayu dari limbah perkebunan ataupertanian, terutama tandan kosong kelapa sawit (TKKS) juga masih bisa dikembangkan. Saat ini, perkebunan kelapa sawit telah mencapai areal sekitar 11,3 juta