JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) meminta pemerintah untuk dapat menghilangkan berbagai kendala yang menghambat industri pulp dan kertas di Indonesia.

Ketua APKI Aryan Warga Dalam mengatakan, kendala yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas adalah bahan baku, terkait harga gas industri, dan juga Peraturan Pemerintah No 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Menurut dia, harga gas untuk industri pulp dan kertas sangat tidak efisien. Saat ini, harganya mencapai 9 sampai 11 dollar AS per Million British Thermal Unit (MMbtu). Sementara di negara lain harga gas industri di bawah itu.

"Mahalnya harga gas menjadi salah satu beban industri pulp dan kertas," kata Aryan saat pelantikan pengurus APKI periode 2016-2021 di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Senin (30/1/2017).

Dia berharap, dengan adanya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 16 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan Harga dan Penggunaan Gas Bumi Tertentu, pemerintah segera menurunkan harga gas untuk industri ini.

Isu lainnya adalah mengenai pasokan garam industri. Saat ini, pasokan kebutuhan garam industri sudah menipis, sementara izin impor belum keluar.

"Kami berharap izinnya bisa segera keluar supaya tidak mengganggu produksi," ujarnya.

Lainnya terkait dengan Peraturan Pemerintah No 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Menurutnya, aturan tersebut berpotensi mengurangi jumlah luasan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai sumber bahan baku industri pulp.

Sementara itu, pasokan bahan baku juga terganggu dengan adanya Peraturan Menteri Perdagangan No 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya Beracun.

Dengan itu, industri kertas mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku kertas bekas. Jika hambatan-hambatan tersebut tidak diselesaikan, maka industri pulp dan kertas akan terancam dan sulit bersaing.

Pada 2015, industri pulp dan kertas menyumbang devisa negara mencapai 5,3 miliar dollar AS. Indonesia juga menduduki peringkat ke enam di dunia untuk produksi kertas dan peringkat ke 10 untuk produksi pulp.

APKI menargetkan industri pulp tahun ini bisa tumbuh tiga hingga empat persen sehingga ekspor pun bisa