koran.bisnis.com, JAKARTA — Harga kertas yang terus menanjak memberatkan industri pengguna kertas di dalam negeri. Ketua Ketua Dewan Per timbangan Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jimmy Juneanto mengatakan harga kertas naik 4%—5% pada awal April.

Kenaikan tersebut ber dampak signfi kan pada akti vi tas pro duksi perusahaan percetakan yang 50%—60% biaya produksinya tersita untuk peng ada an kertas sebagai bahan baku utama. “Dampaknya beragam. Untuk undangan, misalnya, biaya pro duk si lainnya lebih besar. Na mun, bagi yang mencetak digi tal seperti buku pelajaran kenaikan 5% sangat terasa,” kata nya kepada Bisnis, Selasa (4/4).

Jimmy mengaku tidak tahu secara pasti alasan harga ker tas naik tajam setelah cende rung stabil dalam periode yang panjang. Namun, dia memperkirakan kenaikan pada awal April ber kaitan dengan antisipasi per min taan tinggi pada awal tahun pelajaran. Perusahaan percetakan biasa nya mulai meningkatkan produk si pada Mei untuk mengejar pesanan pencetakan buku pelajaran sekolah yang permintaannya memuncak pada Juli.

“Saya rasa ada antisipasi agar keuntungan mereka se ma kin besar. Ada juga permasalahan di India . Beberapa pabrik kertas kesulitan air, tetapi dampaknya apa sampai Indonesia,” kata Jimmy.

TAMBAH BEBAN

Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers, Ahmad Djauhar, mengatakan harga kertas yang di gunakan oleh industri media cetak sudah naik tiga kali dalam se tahun terakhir dengan besar ke naik an kumulatif mencapai 6,2%. Tekanan kenaikan harga kertas menambah beban perusahaan percetakan yang sudah terbebani oleh kenaikan upah minimum dan harga listrik yang sudah naik 8%—10%.

“Beban untuk membuat produk yang mencerdaskan bangsa ini, praktis sama sekali tidak ada dukungan atau bantuan dari pemerintah,” kata Djauhar. Djauhar menilai tata niaga
pulp dan kertas jus tru memberat kan industri peng guna kertas domestik. Dia memaparkan harga kertas yang dipasok ke produsen di Tanah Air terus menanjak, terutama setiap nilai tukar rupiah berfl uktuasi.

Di sisi lain, produsen pulp dan kertas dalam negeri menjual kertas pada harga yang sangat murah kepada produsen pengguna kertas di China. “Kenapa produsen kertas
nasional ngasih harga bagus ke China. Mungkin permintaan mereka tinggi, tetapi ini berarti mereka memperoleh subsidi,” kata Djauhar.

Selisih harga kertas, lan jutnya, membuat beberapa perusahaan penerbitan memilih mengorder ke percetakan di China daripada menggunakan jasa percetakan lokal. Djauhar mengungkapkan sebuah perusahaan pernah men cetak buku di harga US$2 per unit atau sekitar Rp26.000, padahal ongkos cetak buku berkualitas serupa di percetakan lokal berkisar Rp50.000—Rp75.000.

“Kertasnya padahal dari Indonesia. Kenapa yang justru menderita perusahaan grafi ka di Indonesia, negara yang merupakan salah satu produsen kertas terbesar dunia.
Harus diatur skema agar iklim usahanya seimbang,” katanya. Djauhar menyarankan pemerintah menerapkan bea keluar agar industri pengguna kertas di China merasakan beban yang setara dengan industri pengguna kertas di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis Federasi Pengemasan Indonesia (IPF) Ariana Susanti mengatakan harga bahan baku kertas yang digunakan oleh industri
pengemasan sudah naik nyaris 27% sejak awal 2017. Industri pengemasan, jelasnya, menggunakan kertas jenis corrugated atau kertas karton sebagai material kemasan
utama atau pelengkap plastik. Kertas berkontribusi sekitar 30% dari total bahan baku yang digunakan oleh produsen kemasan.

“Alasannya adalah pengurangan suplai dari China. Isu lingkungan membuat pro duk si kertas China merosot. Perusahaan perdagangan internasional jadi menaikkan harga
jual,” kata