JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah kapasitas terpasang industri pulp (bubur ketas) nasional pada 2017 akan meningkat dari 7,93 juta ton menjadi 10,43 juta ton per tahun. Sedangkan, jumlah kapasitas terpasang industri kertas nasional mencapai 12,98 juta ton per tahun.

Saat ini, industri pulp dan kertas di dalam Indonesia mencapai 84 perusahaan.

“Tambahan kapasitas pulp tersebut dikontribusikan oleh PT OKI di Sumatera Selatan sekitar 2,5 juta ton, yang akan mulai berproduksi secara komersial pada Februari 2017,” ungkap Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, melalui keterangan resmi, Selasa (31/1/2017).

Panggah menilai, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peluang cukup besar untuk pengembangan industri pulp dan kertas, selain beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Timur.

Hal tersebut karena masih adanya area bahan baku kayu dari Hutan Tanaman Industri (HTI) dan potensi bahan baku non-kayu dari limbah perkebunan dan pertanian, terutama tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

“Dengan perkebunan kelapa sawit yang saat ini telah mencapai luas sekitar 11,3 juta hektar, tentunya potensi TKKS cukup besar,” jelasnya.

Di samping itu, lanjut Panggah, industri pulp dan kertas berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, antara lain dilihat dari kontribusi dalam perolehan devisa sebesar 5,38 miliar dollar AS pada tahun 2015.

Selanjutnya, sampai September 2016 mencapai 3,79 miliar dollar AS atau menempati peringkat ke-7 sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor non-migas.

“Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung,” imbuh Panggah.

Menurutnya, beberapa proyek industri pulp dan kertas lainnya akan segera menyusul, yaitu Unit Produksi Kertas Tissue di PT OKI dengan kapasitas 500.000 ton per tahun yang diperkirakan mulai berproduksi pada Juni 2018.

Selain itu, proyek PT. Sateri Viscose International di Pelalawan Riau, yang akan memproduksi dissolving pulp untuk rayon dan kertas digital.

Panggah menegaskan, industri pulp dan kertas ditetapkan sebagai salah satu industri prioritas melalui Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional.

"Indonesia memiliki keunggulan komparatif terutama di bidang bahan baku dibandingkan dengan negara-negara pesaing yang beriklim sub tropis," paparnya.

Untuk itu, Panggah meminta kepada Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia agar potensi sumber daya alam yang tersedia di dalam negeri dapat diproses menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup pada porsi yang