JAKARTA .Bisnis Indonesia— Peningkatan kapasitas produksi bubur kertas dan kertas mendorong peningkatan ekspor kertas dan barang dari kenas sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor kertas dan barang dari kertas tercatat senilai US$7,26 miliar, atau naik 15,1% dari tahun sebelumnya yang mencapai US$6,30 miliar. Pertumbuhan ekspor ini lebih baik ketimbang sektor lain yang hanya tumbuh satu digit, bahkan ada yang mencatatkan penurunan.

Edy Sutopo, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian,mengatakan kenaikan nilai ekspor tersebut disebabkan peningkatan kapasitas produksi dengan mulai beroperasinya pabrik baru. Salah satunya adalah pabrik PT OKI Pulp and Paper di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan.

“'Terdapat peningkatan kapasitas dengan mulai beroperasinya OKI yang memproduksi pulp berkapasitas 3 juta ton per tahun dan kertas tissue dengan kapasitas 500.000 ton per tahun. Beberapa pabrik lainnya juga melakukan ekspansi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/2).

Selain peningkatan kapasitas tersebut, kata Edy, kenaikan nilai ekspor juga didorong oleh membaik-
nya harga bubur kertas dan kertas di pasar global Kendati ekspor mengalami pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan sektor industri pengolahan lainnya, dia mengatakan bahwa terdapat beberapa tantangan yang dihadapi pelaku industri pulp dan kertas.

Permasalahan utama yang dihadapi yakni tuduhan dumping dan subsidi dari beberapa negara tujuan ekspor. “Tuduhan ini disebabkan industri pulp dan kertas . Indonesia yang sangat efisien mesin produksinya dan ditunjang produktivitas lahan dan tanaman yang tinggi sebagai sumber bahan baku industri pulp dan kertas," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam menyatakan di tengah tuduhan dumping, pihaknya masih optimistis industri pulp dan kertas masih bisa tumbuh 5% pada tahun ini. Apalagi, peluang pasar masih terbuka dan kapasitas produksi pulp dan kertas meningkat karena ada perluasan.

“Harga juga masih bagus, apalagi tahun ini ada permintaan kertas untuk pemilu,” katanya.

Dia menuturkan saat ini pasar dinilai sedang bertumbuh dan permintaan dunia meningkat sekitar 2%. Namun, tuduhan dumping membuat industri pulp dan kertas tidak optimal.
(Annisa S. Rini)