JAKARTA , koran.bisnis.com — Kinerja ekspor produk kertas dan barang dari kertas Indonesia terhambat kebijakan anti-dumping negara tujuan dan membanjirnya produk China di dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor kertas dan barang dari kertas sepanjang Januari–Agustus 2016 menyusut 6,61% secara year-on-year menjadi US$3,37 juta dari sebelumnya US$3,62 juta.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan tren ekspor pulp and paper Indonesia mengalami penurunan 1,98% da lam periode 2011–2015. Tahun lalu, nilainya hanya US$3,98 juta dari posisi 2011 yang sebesar US$4,39 juta.

Produk hasil hutan, yang terdiri dari pulp and paper, furnitur, serta kayu dan produk kayu, merupakan satu dari sepuluh komoditas utama dan potensial Indonesia.

Wakil Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Rusli Tan mengatakan tidak semua jenis produk pulp dan kertas mengalami penurunan ekspor. Kertas tisu misalnya, disebut terus menunjukkan kenaikan tapi masih belum mampu mengimbangi penyusutan yang terjadi di kertas fotokopi.

Data BPS memang mengungkapkan kertas tisu tumbuh 14,07% secara tahunan menjadi US$501.741 selama Januari–Agustus 2016, dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yang sekitar US$439.837. Kemasan dan kotak dari kertas dan karton pun meningkat tipis 1,23% menjadi US$85.413 dari sebelumnya US$84.379.

Dia menyatakan ada perkembangan ekspor Tanah Air disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kebijakan antidumping dari negara tujuan ekspor dan membanjirnya produk China di pasar global. AS misalnya, yang termasuk negara tujuan ekspor utama, menetapkan bea masuk anti dumping hingga ratusan persen bagi produk kertas dari Indonesia.

KALAH BERSAING

Sementara, negara lain yang potensial seperti Jepang dan Korea Selatan mulai beralih ke China. “Kualitas kita diakui bagus dan harga sebenarnya bisa bersaing dengan China. Tetapi, kita kalah dengan China di bea masuk anti-dumping,” terang Rusli kepada Bisnis, Senin (3/10).

Padahal, ungkap APKI, Negeri Panda mengimpor pulp sebagai bahan baku kertas dari Indonesia. Selain AS, Jepang, dan Korea Selatan, Indonesia juga melakukan ekspor ke Timur Tengah dan Eropa.

Di sisi lain, Indonesia menetapkan bea masuk 0% untuk impor produk kertas. Hal ini makin menekan industri pulp dan kertas dalam negeri.

APKI menilai pemerintah mestinya bisa memberlakukan berbagai kebijakan yang dapat melindungi industri domestik dan me lakukan diplomasi dagang yang serius.

“Tidak ada imbal balik yang positif. AS hanya ekspor kardus ke kita tapi mereka tidak impor kertas dari kita, kenapa tidak didorong? Jepang ekspor mobil tapi kenapa tidak impor kertas dari kita? Kalau ada bea masuk impor 10% saja pasti orang sudah tidak bisa masuk ke sini,” papar dia.

Pendorong ekspor paling besar bagi sektor ini adalah industri makanan dan minuman (mamin), garmen, dan alas kaki. Produk-produk tersebut menggunakan berbagai produk kertas dalam pengemasannya dengan porsi yang cukup besar.

Oleh karena itu, pelemahan di ketiga sektor itu juga mempengaruhi kinerja ekspor pulp dan kertas lokal. Apalagi, kertas dan kotak yang digunakan oleh produk mamin, garmen, dan alas kaki tidak dikenakan bea masuk.

Jika sektor-sektor itu mengalami pertumbuhan, maka ekspor kertas Indonesia diklaim dapat ikut meningkat setidaknya 30%. Di sisi produksi, Indonesia menghasilkan 12 juta ton kertas per tahun. Pada akhir 2016, jumlahnya bakal bertambah sekitar 500.000 ton.

Adapun kapasitas mesin pulp terpasang 7,9 juta ton dan tahun ini mendapat tambahan 2,5 juta–3 juta ton. Dengan demikian, secara total produksi industri pulp dan kertas dapat meningkat menjadi 15,5 juta–16 juta ton pada 2017.

Dari angka tersebut, mayoritas merupakan produk kertas fotokopi dengan porsi sekitar 40%. Kendati ada berbagai tekanan, para pelaku usaha tetap berekspansi menambah