Bisnis.com - Foopak menjadi merek yang diusung PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. untuk produk kemasan makanan berbahan dasar kertas, yang diharapkan memberikan tambahan pendapatan bagi perseroan.

Kelahiran Foopak menjadi langkah awal emiten Grup Sinar Mas untuk meramaikan pasar produk kemasan global yang ditaksir menembus US$1 triliun pada 2020.

Produk kemasan food grade ini diproduksi di pabrik Indah Kiat Serang, Banten. Setidaknya ada enam jenis Foopak yang diproduksi di pabrik berkapasitas 1,5 juta ton kertas industri itu, yakni Foopak Heat-Sealable Board, Foopak Grease Proof Board, Foopak Hard Size Board, Foopak PE Board, dan Foopak Natura Cup.

Menengok spesifikasinya, Foopak diklaim sebagai produk yang 100% food grade dan telah sesuai dengan standar Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat, mengantongi sertifikasi ISEGA, dan dijamin halal.

Tak hanya itu, Foopak tahan panas dan minyak, serta dapat digunakan sebagai wadah makanan untuk penyimpanan di lemari pendingin maupun saat dipanaskan di dalam microwave.

Foopak juga disebut mudah didaur ulang sehingga ramah lingkungan. Pelaku industri optimistis permintaan produk–produk kemasan di pasar global akan menembus angka US$1 triliun pada 2020. Pertumbuhan permintaan produk kemasan di kawasan Asia Pasifik diperkirakan mencapai 6% per tahun, Amerika Tengah & Selatan 9% per tahun, serta Eropa Barat dan Amerika Utara sekitar 3% per tahun.

Pertumbuhan generasi konsumen yang mengakses produk-produk kemasan yang mewah serta produk kemasan pesanan khusus untuk makanan dan minuman diyakini akan mendongkrak permintaan pada masa mendatang.

Deputi Direktur Pemasaran Global APP Djohan Gunawan mengungkap Foopak telah di luncurkan sejak Februari 2013. Saat ini, Foopak semakin populer di kalangan kelas menengah dan mencerminkan standar pengemasan makanan secara sehat.

“Dengan Foopak, kami berupaya menciptakan wadah makanan yang bersumber dari bahan berkelanjutan, mudah didaur ulang dan memiliki standar biodegradable,” ucapnya baru-baru ini.

Direktur Indah Kiat Pulp and Paper Suhendra Wiriadinata optimistis Foopak makin diterima di tengah masyarakat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk kemasan food grade.

Ke depan, kemasan makanan berbahan dasar kertas diharapkan dapat menggantikan bahan sty rofoam atau plastik yang biasa di gunakan oleh masyarakat Indonesia.

“Kemasan makanan bahaya sekali kalau tidak food grade, bisa terjadi migrasi mikroba. Konsumen dan produsen makanan harus diedukasi bahan kemasan tidak boleh sembarangan, bahkan harus sesuai sertifikasi,” tuturnya.

Suhendra mencontohkan salah satu pedagang nasi goreng di sudut Jakarta Pusat telah menggunakan Foopak untuk mengemas makanannya.

Hanya dengan menambah biaya Rp1.000, konsumennya dapat mengganti pembungkus nasi goreng atau mi goreng dari kertas nasi menjadi Foopak. Selain mengusung merek Foopak, emiten bersandi saham INKP ini juga menerima pesanan untuk memproduksi kemasan makanan berbasis kertas sesuai dengan merek vendor makanan.

Beberapa di antaranya adalah J.Co Donuts, Holland Bakery, dan Silver Queen.

PENJUALAN NAIK

Merujuk laporan keuangan semester I/2016, produk kertas industri dan lain-lain menyumbang pendapatan sebesar US$474,48 juta dalam pundi-pundi INKP. Produk
ini menjadi satu-satunya jenis produk yang mencatatkan kenaikan penjualan bersih.

Sepanjang Januari–Juni 2016, total penjualan bersih INKP mencapai US$1,83 miliar atau turun 1,7% dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu.

Penjualan produk pulp turun 9,77% menjadi US$467,57 juta dan produk kertas budaya terkoreksi 0,94% menjadi Rp441,3 juta. Di sisi lain, penjualan produk kertas industri dan lain-lain tumbuh 6,97% dari US$443,56 juta pada semester I/2015.

Lesunya penjualan kertas budaya dan pulp sejalan dengan lambatnya laju perekonomian global yang menekan konsumsi pulp dan kertas. Hal itu tercermin dari tren ekspor kertas dari Indonesia yang tercatat turun 3,57% sepanjang 2011–2015. Pada periode yang sama, nilai ekspor bubur kayu (pulp) hanya tumbuh 3,19%.

Pada 2016, belum terlihat sinyal pemulihan. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor kertas Indonesia sepanjang JanuariJuli 2016 turun 7,16% year-on-year menjadi US$1,96 miliar dan ekspor pulp melorot 7,21% yoy menjadi US$919,5 juta.

Kendati demikian, Suhendra menilai permintaan ekspor produk pulp dan kertas masih cukup besar dan berkelanjutan. Menurut juru bicara Grup APP ini, sekitar 60%
produk pulp dan kertas diekspor ke negara-negara Asia, seperti China, Jepang, dan Asean.

Ada pula produk jadi yang diekspor ke Timur Tengah dan Afrika, misalnya produk kertas Sinartech yang dikhususkan untuk mencetak Al Quran.

Besarnya potensi ekspor mendorong Grup Asia Pulp and Paper menggelar ekspansi lini produk bubur kertas, tisu, dan kertas budaya.

Tahun ini, dua emiten sektor industri kertas milik Taipan Eka Tjipta Widjaja menganggarkan belanja modal sebesar US$150 juta. Rinciannya, INKP mengalokasikan capex US$120 juta dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. US$30 juta.

Dana tersebut antara lain digunakan untuk merampungkan pabrik pulp and paper raksasa baru yang berlokasi di Sungai Baung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Pabrik yang dijadwalkan memulai operasi pada November 2016 itu diperkirakan menyumbang pendapatan sebesar US$1,5 miliar–US$2 miliar per tahun.

Pabrik pulp dan kertas itu menyerap investasi hingga Rp40 triliun dan dirancang untuk memproduksi 2,8 juta ton bubur kertas dan 500.000 ton tisu.

Operasionalnya berada di bawah PT Oki Pulp and Paper Mills yang diakuisisi Grup APP pada 2013.

Saat ini, sebanyak 49,08% saham perusahaan itu digenggam oleh PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. Suhendra yang juga menjabat sebagai Komisaris Oki Pulp & Paper menyebut pengoperasian pabrik tersebut bakal mendongkrak kapasitas produksi bubur kertas Grup Sinar Mas menjadi 14 juta ton dari sebelumnya 11 juta ton per tahun.

Sekitar 95% produksi pulp dari pabrik itu akan dikemas untuk pasar ekspor.

“Kontribusinya mungkin bisa US$1,5 miliar–2 miliar per tahun. Hampir semua produk pulp berorientasi ekspor,” ucapnya.

Kendati pasar pulp and paper kurang kinclong, saham INKP masih naik 2,54% sepanjang tahun berjalan 2016.

Hans Kwee, Direktur Investa Utama, menuturkan saham INKP pernah masuk dalam daftar bluechips.

Namun, popularitas industri pulp dan kertas berangsur-angsur meredup. Akibatnya, saham INKP terlempar dari jajaran bluechips.

“Industri kertas sedang tidak kinclong. Teknologi berkembang pesat, industri ini tertekan digitalisasi dan paperless, jadi popularitas emiten turun,” kata Hans kepada Bisnis, Senin