JAKARTA, KOMPAS — Badan Restorasi Gambut menyatakan konflik lahan masyarakat dan PT Riau Andalan Pulp and Paper di Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Riau, telah selesai. Namun, permasalahan batas desa dan perbaikan pengelolaan ekosistem gambut belum tuntas.

Konflik masyarakat dengan PT RAPP berlangsung sejak Kementerian Kehutanan (kini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK) memberi tambahan konsesi hutan tanaman industri 41.250 hektar tahun 2009. Perusahaan Grup APRIL itu mengklaim menggunakan lebih dari 30 persen konsesi, di kubah gambut, untuk fungsi lindung dan restorasi ekosistem.

Namun, di sekeliling kawasan lindung konsesi ditanami tanaman akasia sebagai bahan bubur kertas. Penanaman itu memicu konflik dengan masyarakat yang menilai perusahaan mencaplok lahan warga dan lahan desa.

"Mereka (RAPP) setuju lahan berkonflik itu dikelola masyarakat. Status izin konsesi masih di perusahaan, tetapi pengelolanya di masyarakat," kata Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead, Selasa (8/11), seusai seminar Restorasi Lahan Gambut oleh Korea Indonesia Forest Center.

Pada 5 September 2016, Nazir dan rombongan dihadang sekuriti RAPP saat inspeksi ke lahan konflik di Pulau Padang. Kini, perusahaan tidak akan melanjutkan penanaman akasia. Karena itu, pekerjaan rumah tim sosial yang diturunkan BRG dan KLHK serta pemda setempat tinggal berupaya menyelesaikan konflik tata batas antardesa Bagan Melibur dan Rukit.

Saat ini, kata Nazir, pihaknya sedang melakukan kompilasi data pemetaan LiDAR (berbasis laser) di Pulau Padang. "Akhir bulan, kami bisa dapat peta 1 : 50.000 untuk rencana pengelolaan Pulau Padang," katanya.

BRG mendorong perusahaan melakukan riset untuk menemukan jenis tanaman yang tahan di gambut dan bernilai ekonomi. Pemerintah juga sedang menguji beberapa jenis tanaman yang memenuhi kriteria itu.

Dikonfirmasi hal itu, Direktur Konservasi RAPP Petrus Gunarso mengatakan akan mengikuti penataan ulang Pulau Padang. "Kami dulu mendata dengan teknologi saat itu. Kalau sekarang pakai LiDAR lebih canggih, sehingga lokasi kubah gambut kami geser. Pasti kami ikuti," katanya.

Ia mengatakan, kubah gambut itu menjadi areal restorasi ekosistem RAPP dalam payung PT Gemilang Cipta Nusantara. Kawasan itu menjadi habitat berbagai fauna dilindungi serta menyimpan karbon tinggi.

Petrus mengatakan, di sekeliling kubah gambut dimanfaatkan secara ekonomi. Perusahaan menanam akasia yang tahan lahan basah (Acacia crassicarpa).

"Kami juga tanam jenis-jenis tanaman lokal. Nanti dipelajari mana yang cocok. Kami perusahaan pasti ingin tanaman yang produksinya setinggi-tingginya," ujarnya.